Rabu, November 23, 2011

kisah cintaku


Rasanya kamu masih ada disisiku, menemaniku, meski tak selalu tampak. Seperti biasanya.
Rasanya juga ga percaya kalau kamu itu (udah) gak ada lagi disisi aku.
Rasanya juga berat buat mengakui kalau mungkin kamu gak akan kembali lagi buat menemani hari-hariku seperti dulu.
Rasanya semua ini berlalu begitu cepat..

Well, mungkin pertemuan pertama kita bukan suatu hal yang terasa begitu spesial kala itu. Kamu milik orang lain, dan aku belum begitu tertarik sama kamu. Tapi setelah dia hilang dan pergi yang aku yakin tak kembali.. Setelah kamu dicampakan dia yang dulu pernah memilikimu.. Setelah dengan cukup berat kita mendapat restu dari orang yang dulu ingin memiliki kamu.. Sangat mencintai kamu.. Adikku sendiri...

Well, aku akui.. Awalnya aku hanya memanfaatkan kamu dari kekosonganku saja. Aku butuh semua hal yang ada pada kamu. Aku sempat tak rela ketika ayahku mengatakan, sebaiknya aku bersama dirimu saja...
Aku merasa angkuh kala itu jika harus terus berdampingan denganmu yang sungguh bagiku sangat jauh berbeda dan menurutku berada jauh dibawah dia yang telah meninggalkanku...
Aku akui, sering aku menyakitimu.. Membuatmu terluka dan mungkin meninggalkan cacat padamu.. Aku sering mengabaikanmu.. Aku sering menyepelekanmu.. Aku sering berlaku angkuh dan merendahkanmu.. Aku sering berkelakar tentangmu dihadapan orang-orang “Hahahaha.. Biarin aja.. Udah pengen ganti kok..”
*sigh

Tapi tak jarang pula, ketika aku terjaga.. ketika aku teringat..
Aku pun pernah bersyukur atas kehadiranmu.. Aku pernah sangat bahagia memilikimu...
Yang kini aku sadari, bahwa kini aku mencintaimu...

Kelakar itu kini mungkin sudah terwujud..
Tapi aku masih tak percaya..
Aku masih ingin menyangkal bahwa kamu udah ga disisi aku lagi..
Kamu mungkin udah pergi.. Ga kembali lagi sama aku...
*sigh
Aku masih ga kuat buat ngakuin itu sama diri aku sendiri.. Rasanya sulit buat melepas kamu..
Ini bukan tentang air mata.. Karna kepergian kamu ga aku nodai sama airmata yang payah...
Ini cuma tentang hati aku yang masih berat mengakui kalo kamu itu gak ada disisi aku lagi...
Semua kenangan, memori, dan hal-hal berharga yang ada sama kamu makin nambah aku seakan ngerasa gak rela... Karena aku sadar kalau ini semua salah aku... aku jadi semakin sulit buat mengakui kenyataan ini..

Banyak hal yang aku pengen tegasin dari hal ini adalah.. Aku gak pernah menyesal bertemu kamu.. Thanks God... Aku malah sangat bersyukur.. Dan, meski aku terlihat seperti ga perduli.. Tapi aku mencintai kamu.. Setulus hati aku.. Karena Allah.. (Makanya aku gak mau lebay ketika kehilangan kamu..) Aku juga berterimakasih sama ayah, adikku, Allah, dan kamu tentunya.. Karena aku bisa punya kisah sama kamu... senang, susah, sedih, bahagia.... Mudah-mudahan semua ini bisa jadi pelajaran berharga buat aku, dan buat aku berubah menjadi lebih baik lagi... Amin..

Dedicated for My Beloved Master, MITO 2000
In Memoriam 13 November 2011


(gak tau kenapa Sountrack di Playlist jadi lagu UTUH nya Tangga)

*buat pembaca mohon doanya juga yaa....

Selasa, November 22, 2011

buat apa?

15 Maret 2008, jam 15.00
Mukaku terasa panas. Mungkin jika aku membawa cermin dan melihat bayanganku sendiri, aku dapat melihat wajahku yang merah. Bengkak. Mataku juga terasa perih, terasa agak sedikit basah dan hangat, deru nafasku seperti terburu namun tersendat. Aku tak bisa berfikir diksi apa yang harus keluar dari mulut ini, jangankan diksi, sepatah kata asal pun serasa tak bisa dan tak mau terungkapkan. Wanita kurus ini masih mengelus lututku. Aku berusaha menenangkan diri.
***
15 Maret 2008, jam 17.30
Aku segera merebahkan badan ini diatas kasur, masih dengan kostum yang sudah tadi aku pakai untuk mengarungi sedikit cerita dinamika hidup. Emosi yang tadi terluap masih sedikit tersisa. Buktinya dadaku masih terasa sesak, rasanya oksigen yang tersedia di kamarku ini masih kurang memuaskan paru-paruku untuk bernafas lega. Leher ini masih terasa sakit dan tercekat, rasanya masih ingin menumpahkan emosi yang tadi sudah membanjiri dada ini. 
"Astagfirullah.... Astagfirullah... Astagfirullah... Allah...", aku merintih kecil, mencoba ikhlas.

***
15 Maret 2008, jam 19.35
"Jangan sampai kita terlena..", tegas wanita dewasa disampingku, namun dengan nada yang lembut.
".....", aku masih tak bisa berkomentar.
"De.. buat apa sih kita melakukan ini? Capek-capek ngerjain tugas, presentasi, observasi, ngurusin laporan, ngurusin himpunan yang malah bikin pusing, kegiatan ini itu.... Capek ga sih?"
Aku tak bisa menjawab apa-apa lagi. Hanya butiran air hangat terasa mengalir deras di pipiku. Aku tak bisa mengeluarkan suara apapun, bahkan hanya sebuah gerungan pun. Aku menyadari, tapi masih malu mengakui.
Kurasakan belaian lembut itu di bahuku. Aku semakin tak kuasa menahan apa yang aku rasakan.  Entah perasaan apa, yang jelas aku menangis sekarang. Tertunduk. Jelas, aku sangat malu.
"Perasaanmu belum tentu berasal dari hatimu dek.. Bisa saja itu hanya tipudaya yang melemahkanmu.. Mungkin  iya kamu sudah melakukan kesalahan, mungkin iya juga kamu sudah merasa bersalah. Tapi coba kamu pikirkan dan resapi lagi, apa semua perasaan ini sudah benar? Apa kamu merasakan semua ini karena Allah?", wanita ini semakin mempertajam suaranya namun 
Hening. Elfa, kakak sulungku seolah membiarkanku sejenak untuk menenangkan diri.
"De.. Jangan terlalu terbuai.. Kalau kamu merasa kesulitan, mintalah bantuan... Minta bantuan Allah..."
Astagfirullah.... Ya Rabbana.... Maafkan aku... Bantu aku...
***
15 Maret 2008, jam 14.45
"Lo tau kan!", aku berteriak keras.
"Iya! Dan gue yakin banget, kalo emang ini harus di sidang!"
"Kalo lo emang pengen tetep kasus ini sampe di sidang, kenapa lo ga dateng kemaren pas musyawarah? Kemana aja lo?"
"Bukan masalah gue dateng apa nggak, tapi ini buat kedepannya! Kalo cuma diinegtin doang, bisa jadi kebiasaan! Fine, ini hal yang kecil, tapi kalo udah dikasih contoh ga diapa-apain, nanti malah keterusan! Yang lain juga mikir ga apa-apa! Lo mau hasil kaderisasi lo pelenyak pelenyek? Ga mutu?".
Darahku terasa mendidih.
Aku segera berdiri dan pergi meninggalkan forum.
***
16 Maret 2008, jam 10.12
"Oke, insya Allah dan mudah-mudahan ini yang terbaik ya...", semua yang hadir langsung mengamini.
"Baik, terimakasih semuanya.. Mohon maaf bila selama forum ini ada hal yang kurang berkenan dari pihak manapun, mari kita sama-sama mengikhlaskan, karena toh keputusan sudah disepakati dan memang tujuan kita sama, yaitu untuk himpunan kita yang lebih baik lagi kedepannya.", kini semua peserta forum mulai hening dan menghayati.
"Kita akhiri dengan bacaan hamdalah, istigfar, dan doa akhir majelis...", semua khusyuk dengan hatinya masing-masing.
"Terimakasih semuanya wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..", Agus akhirnya menutup forum kali ini. Aku melirik Dian diam-diam, perseteruan kami kemarin rasanya membuatku jadi sedikit canggung, tapi aku harus melakukannya! 
Aku akhirnya menghampiri Dian.
"Dian... Maafin aku yaa....", aku memeluk Dian erat.
"Sama-sama Fa..", tak banyak yang keluar dari mulut Dian. Namun setelah prosesi berpelukan yang cukup lama, kami pun saling memandang dengan senyuman penuh arti. Lebih berarti dari sebelumnya. Seperti ada rasa sayang yang begitu besar.
 Rasanya lega. Kalau kita lebih ikhlas dan melakukan semuanya karena cinta. Ya, terutama karena Cinta. 
Daaaan... Jika kita kita ingat dan berusaha, ditambah ikhlas, pertolongan itu akan kita sadari ada, tapi kadang dari arah yang sama sekali tak kita mengerti.

Rabu, November 09, 2011

Ilmu Pernyataan : Komunikasi Non Verbal

Well.. (Entah kenapa kalo di blog, kalo mau mulai cerita, seneng banget pake kata ini)
Back to the point. Komunikasi berguna banget kalo kita mau menyampaikan sesuatu pesan sama lawan bicara kita. Trus banyak ragamnya... Ada komunikasi verbal dan non verbal. Btw, untuk kali ini kita cerita tentang komunikasi non verbal dulu yaaa... Dari komunikasi non verbal ini kita bisa tau emosi seseorang, mau tau indikatornya? Misalnya

1.      Bahagia
·         Bibir dan mulut melebar, kadang-kadang gigi terlihat.
·         Bagian bawah kelopak mata agak terangkat, terlihat ada kerutan dan mata menyipit.
2.      Sedih
·         Sudut mulut tertarik ke bawah dan bibir gemetar.
·         Ujung dalam alis terangkat.
3.      Terkejut
·         Rahang menurun dan mulut terbuka perlahan.
·         Seluruh alis terangkat dan mata membesar.
4.      Takut
·         Bibir ditarik.
·         Seluruh bagian atas alis terangkat, bagian putih mata terlihat jelas, dan kelopak bagian mata bawah menegang dan terangkat.
5.      Marah
·         Bibir tertutup rapat.
·         Alis ditarik kedalam, mata menyipit.
6.      Muak
·         Bibir merapat. Kedua bibir terangkat atau cemberut.
·         Kelopak mata bagian bawah terangkat dan berkerut.
Tapi masih banyak lagi loh yang mencakup komunikasi non verbal, yaitu gesture, parabahasa, facial sign, dll.
 Komunikasi non-verbal juga ditandai dengan ciri-ciri sebagai berikut :


ü      Disampaikan melalui isyarat atau gesture. Gerakan atau movement, postur atau tipologi, parabahasa, sentuhan, penambilan fisik, ruang dan jarak, dan lain-lain.
ü      Proses komunikasi yang implisit dan dapat terjadi dua arah amupun searah.
ü      Kualitas proses komunikasi tergantung pada pemahaman terhadap presepsi orang lain.

                        So, Asik banget kan belajar ilmu pernyataan? Kita bisa tau dan "ngebaca" emosi seseorang. (pake bahasa anak2 yang sering nanya "eh, kamu anak psikologi ya? "baca" aku dong..." -______- peliiis kita bukan jurusan dukun logi...)
Tunggu post berikutnya yaaa.. soalnya lagi males negtik nih. hihihi ... :p


Source : Modul Kuliah Ilmu Pernyataan Bu Herlina

If i wasn't me....

Ujang Kasep (bukan nama sebenarnya) memberhentikan motor tepat didepan gerbang rumahku. Tapi, deg-degan ini dan perasaannya nyaman ini belum juga hilang, bahkan hingga aku turun dari motor. Rasanya berat untuk melepasnya hari itu, walaupun pasti 2 hari lagi bertemu. Namun akhirnya kata itu terucap juga..
"Daaah..."
***
Suara teriakan dari depan masih terdengar. Sorak sorai pendukung dan penggemar sekarang tak seperti dulu. Kini itu semua terasa seperti jeritan kosong tiada arti. Kalaupun ada, terdengar seperti teriakan penuh obsesi. Rasanya... Tidak ada. Tidak spesial. Sudahlah, aku masih harus naik ke panggung, menyanyikan 3 lagu untuk memuaskan obsesi dan haus mereka terhadap.... hiburan....
***


 Kadang suka melakukan hal bodoh ini, kalau memang lagi ingin ngaco. 
Tapi seharusnya bersyukur... dengan keadaan saya, seorang teenager moeslim girl. Kadang ga sempurna tapi terus belajar ddibantu orangtua, keluarga, sahabat, lingkungan, dan Allah untuk selalu jadi lebih baik lagi. And be my best :)

Alhamdulillahirobilalamin....