Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sastra. Tampilkan semua postingan

Jumat, Agustus 09, 2019

aku mencintaimu

Cinta adalah kata benda. Mencintai adalah kata kerja. Mencintai adalah sebuah pekerjaan memberi cinta. Jika mencintai, maka seharusnya memberi, kan? 
8 Dzulhijah 1440 H

Jumat, Juni 23, 2017

tentang kamu, si rasa itu

aku pernah membersamai sebuah masa dimana kamu adalah peran utama
membuat cita atas nama cinta
merangkai mimpi dalam kata, dan membalutnya dalam indah romansa

aku pikir semua sama, tentang kamu, hai rasa
seperti debaran yang sama, dan sesak yang tak berbeda
pada dia yang mungkin berbeda, tapi kupikir tetap kaulah muaranya

halo, rasa
lama tak jumpa


Senin, Oktober 17, 2016

Merah Saga

Aku masih beruntung
Hanya senja yang berwarna merah saga
Malam kelam tapi masih berteman bintang

Aku memang terkejut saat biru langit mulai memudar dan mega mulai berubah
Aku memang sakit saat mentari harus pergi sejenak memberikan siang pada belahan bumi lain
Aku masih beruntung, purnama masih mau singgah pada masanya
Aku bersyukur, kala hujan maupun cerah, langit malam masih sedingin yang sama

Ah, maafkan aku
Nafasku yang berat dan desahan yang terdengar muram
Aku hanya ingin melepas sedih saja

Kamis, Mei 05, 2016

Wagerudolf S

"Kailaaa...", suara yang tidak asing dan ingin aku hindari itu akhirnya terdengar.
Aku melambatkan langkahku hingga berhenti sama sekali, meski hatiku enggan. Lelaki keriting itu kini ada di samping kananku, terengah-engah.

Wajahnya sumringah dan bibirnya menyunggingkan senyum lebar. Aku dengan sedikit enggan, membalas senyumnya. Terpaksa.

"Mau ke Futsal Area, kan? Ayo, kita sama-sama!", ajaknya.
Aku mengangguk sambil senyum, palsu.

Selasa, Desember 29, 2015

Old Cherish


Sudah lebih dari satu tahun aku tidak bertemu dengan mereka. Kangen yang sudah ditumpuk, sekarang seperti hotplate panas yang disiram air, asapnya menguap di udara. Aku rindu suasana seperti ini. Tahun lalu, hampir setiap hari selama satu bulan kami selalu bersama dan sudah melihat jelek dan bagus dari masing-masing kami. Sudah seperti keluarga sendiri.

Rabu, Agustus 19, 2015

Rindu

Sore. Aku sempatkan diri menatap gedung perpustakaan. Ada sedikit harap tersimpan tentang pertemuan tanpa sengaja dengan Farhan di gedung itu, seperti tanpa sengaja aku bertemu dengan teman-teman lain di gedung perpustakaan. Ya, semua temanku, kecuali Farhan. Mereka Farhan juga sering mengunjungi gedung perpustakaan, karena mereka sering bertemu dengannya juga di gedung perpustakaan. Tapi entah kenapa, sesering apapun aku mengunjungi gedung perpustakaan itu, aku tidak pernah melihatnya meski seujung kuku.  

Selasa, Juli 07, 2015

Anyeong!

   
   ***
   Hujan. Aku menatap butiran air yang terciprat di jendela kelasku. Aku menghela nafas. Hari itu aku harus menyerahkan tugas ke rumah Bu Firda, menghadiri rapat persiapan event peringatan sejarah dengan komunitas museum, dan pergi les.
   Bel penanda pulang memang sudah berbunyi sejak tadi. Hujan yang tidak menunjukan tanda-tanda reda membuatku ragu untuk meninggalkan sekolah. Tapi, aku terdorong dengan kewajibanku memenuhi agenda hari itu. Aku menatap sepatuku.
   Mari kita menari dalam hujan sayang.
  
 Aku mengambil tas ku dan berjalan menyusuri lorong, hendak meninggalkan sekolah. Tapi aku berniat membeli beberapa bungkus kecil wafer coklat terlebih dahulu di kantin. Coklat tidak pernah gagal menjadi mood booster-ku.

Kamis, Desember 25, 2014

Catatan Lain dari Hati Seorang Istri

Dia telah berlalu dan berganti semu
Di padang rerumputan ini, kami pernah bersama
Ilalang, dandelion, jepetan kuku, putri malu
Aku seakan layu dimakan waktu dalam ingatanmu
Padahal kita pernah menikmati percikan senja ini bersama angin-angin yang menggesekan  daun-daun kenangan
Bahkan saat langit semakin temaram, engkau seperti hilang bersama cahaya
Saat ku temukan lagi dirimu, kau telah bersanding dengan bintang-bintang jelita
Aku tahu, saat pagi datang lagi, kau akan hadir dalam bentuk lain
Yang mungkin akan terasa lebih menghangatkan setelah ku tempuh dinginnya malam


"Satu-satunya yang tak akan memisahkan kita adalah puisi
Bahkan saat kau pergi aku tetap bertahan di larik yang kau cabik
Puisi adalah caraku membingkaimu dalam sunyi" (Helvy Tiana Rosa)

Minggu, Desember 07, 2014

Desember

Desember, sewindu lalu
Aku menggores penaku pada lembaran lembaran buku harian
Ada apa disana?
Aku tak berteman, tak benar-benar berteman
Aku hanya bercerita pada tiap lembar serat kayu mati yang menjadi hidup dengan kisahku
Tiap huruf merangkai untaian makna, menyisakan ingatan tentang bahagia dan kesedihan
Hai langit Desember,
ingatkah kau ketika kau menjadi tanda dimana aku menghitung waktu, menjelang waktu-waktu istimewa
Ingatkah ketika kau ku campakan setelah ku arungi lagi kisah lain yang lebih menarik di bulan-bulan Georgian lainnya? Mungkin, jika kau memperhatikanku, kau akan merasa sebal
Aku hanya ingin menyapa lagi, ketika ku ingat, ternyata bukan hanya mereka, yang jejaknya telah terhapus hujan di waktumu, yang menjadikanmu istimewa
Hai Desember, apa kabar?

Sabtu, Juni 14, 2014

Terjebak Nostalgia

Pria melihat gadis yang duduk di pojok kelas. Gadis itu ternyata sedang menatapnya juga. Pria buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berdebar. Orang-orang bilang gadis itu sangat membenci Pria. Perasaan Pria jadi tak menentu setelah mendengar kabar itu. Gundah.
***
Sudah seminggu Rara tak masuk. Ibu Yuyun, walikelas Pria mengabarkan bahwa Rara tifus. Pria dan beberapa perangkat kelas lainnya ditugaskan menjenguk Pria. Perasaan Pria tak tentu, yang jelas sejak ditugaskan tadi, jatung Pria seakan berdebar kencang.
Saat di depan pintu kamar rawat Rara, Pria mengetuk pintu, "Permisi..".
Ada suara pintu dibuka, dan terlihat wajah yang tak asing tersenyum ketika melihat Pria dan rombongan.
Bu Erni, guru kesenian mereka, ibunda Rara, yang membukakan pintu.
Setelah dipersilahkan masuk, anak-anak berseragam putih biru itu melangkah masuk. Pria masuk paling terakhir. Wajah Pria memerah saat matanya bertemu dengan sosok yang terbaring di ranjang. Wajah gadis yang terbaring juga memerah. Mereka langsung saling membuang pandangan.
***
Pria tersenyum geli. Sekarang ia sedang dalam antrian undangan yang hendak memberikan selamat pada pengantin di pelaminan.
"Cantik", gumam Pria dalam hati, ada sebuah perasaan aneh dalam hatinya saat melihat ratu pesta hari ini.
Gadis yang menjadi ratu di pelaminan itu adalah Rara, cinta pertamanya. Cinta pertama yang tak pernah tersampaikan.
Dwi memeluk gadis cantik itu, memberikan selamat pada Rara. Pria hanya mampu menyalaminya, memberikan senyum dan selamat. Rara membalasnya dengan respon serupa. Rasanya ada sesuatu yang menahaannya untuk ingin tetap berada di posisi itu, tapi Pria tetap melangkah juga karena antrean di belakangnya masih panjang.
Selesai bersalaman dengan orangtua mempelai, Pria dan Dwi menuruni undakan pelaminan. Pria berpikir sesuatu, tapi tangan Dwi yang kemudian menggantungi di lengan kirinya mengembalikan Pria pada realita.
"Mas, mau makan atau ke stand?", wanita yang merupakan istrinya itu bertanya sambil melihat ke seluruh penjuru aula.
"Baso tahu aja, yuk!", Pria menarik Dwi menuju stand baso tahu. Dwi mengikuti tarikan suaminya itu.
Pria sadar, seberapa manisnya masa lalu, hal itu tetap berada masa lalu. Takdir mempertemukan Pria dengan Dwi dan membuatnya jatuh cinta, kemudian datang keyakinan untuk menjadikan Dwi sebagai teman hidup Pria hingga masa mendatang habis.
Pria tersenyum, dan menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat.
***
Delapan tahun sebelum acara pernikahan Rara..

Gerald mengetuk pintu kamar kakaknya dengan buru-buru.
"Kak!", teriak Gerald dari luar.
Pria membuka pintu kamarnya dan membuka headsetnya.
"Apa?", tanya Pria.
"Gua nemu ini di buku perpus, gue heran kenapa ini masih ada aja", papar Gerald.
Gerald menyerahkan sebuah buku usang dengan banyak bekas lipatan dan Pria membacanya.

Gerald meninggalkan Pria yang masih membaca. Pria melangkah memasuki kamar lagi dan membaca isi salahsatu bukunya yang dulu sempat hilang itu di kasurnya. Pria tertegun melihat salah satu lembaran dibuku itu. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyimpan buku itu diatas meja kemudian memasang kembali headsaetnya. Ia lalu berbaring sambil memejamkan mata.
Ada sebuah tulisan yang membuat ingatan Pria terbang ke dua tahun lalu. Tulisan sesorang yang sebelum ujian nasional, orang itu menghilangkan sebuah  buku  milik Pria.

"Rara loves Pria, but Pria...?"

Rara, dimana kamu sekarang? Sekarang aku yang hampir meledak, karena ada banyak  tanya yang ingin aku tanyakan padamu, guman Pria dalam hati.

Tiba-tiba ia merindukan gadis yang terakhir ditemuinya dua tahun lalu di hari terakhir ujian nasional. Gadis yang tak ikut acara perpisahan sekolah.

~18/3/14.23.14
Dang shi eun

Rabu, Mei 28, 2014

Noona

Dike merangkul leherku.
"Lu memang paliiiing cantik!", gayanya sok imut itu membuatku tak tahan.
Aku tersenyum, bahagia juga. Tapi aku juga bingung harus berekspresi seperti apa lagi. Tapi yang jelas, saat ini hatiku berbunga.
***
Gue dapet A! :)
Aku tersenyum membaca pesan singkat Dike.
Yaeyalah, pake referesi gue gituloh! ;)
Begitu aku membalas pesan singkatnya.
Dike. Ah, anak itu lahir satu tahun kurang tiga hari setelahku lahir, tapi sekarang dia duduk dua tingkat dibawahku di kampus. Dike memang terlambat masuk SD, dan aku lebih cepat.
"Duuh.. Senyum-senyum aja nih sambil lihat hp", Acha datang mengagetkanku.
"Aku habis baca artikel lucu", aku mengelak dan dengan cepat mengalihkan task dari pesan ke browser. Aku sudah paham sekali Acha sangat kepo.
"Lihaat..", Acha bersemangat merebut ponsel dari tanganku.
Sudahku duga.
***
Aku lihat Jesica dibonceng Dike. Jesica melihatku dan melambaikan tangannya sambil tersenyum. Aku membalas senyuman dan lambaian tangan Jesica. Argh, kenapa aku merasa tak jelas.
Marah, kesal, kecewa?
Dike punya hak. Dike sudah dewasa. Aku tidak bisa lagi menjadi kakak yang melindungi adik kecilnya. Cemburu? Mungkin saja, tapi sebagai kakak.
***
3 tahun lalu.
Aku berjalan sendirian di lorong sekolah. Kesendirian itu memang menyenangkan. Aku bisa menikmati irama hentakan kakiku. Aku bisa menikmati angin-angin yang menerpaku. Aku  sangat menikmati arus kehidupan saat ini. Aku melangkah entah kemana sesuka hatiku.
Namun tiba-tiba, tidak tahu mana yang terjadi lebih dulu, ada suara teriakan yang memanggil namaku, suara desing yang memekakan telinga, dan seseorang menimpaku, lebih tepatnya memeluk kepalaku hingga membuatku jongkok. Setelah itu terdengar bunyi sesuatu yang pecah, dan aku melihat beberapa pecahannya jatuh ke lantai dekat kakiku. Aku sangat kaget!
"Lu gak apa-apa, Dar?", suara yang tebal itu terdengar tidak asing.
Aku memfokuskan pandanganku pada sosok laki-laki yang kini ada dihadapanku sambil mengibaskan rambutku untuk membersihkan pecahann kaca. Ia kini menepuk2 bahu dan punggungku.
"Dike?! Kenapa ini?!", aku meminta penjelasan pada orang yang tadi baru saja, aku pikir dia sudah, menyelamatkanku.
"Spinner kipas di kelas ini hampir kena kepala lu. Tuh liat", Dike menunjukan spinner kipas yang  tergeletak rusak dipinggir lapangan.
Aku masih tak mengerti dengan penjelasannya. Aku terus mengorek informasi bagaimana dia bisa menolongku secepat itu.
Saat Dike hendak menjelaskan, guru-guru yang masih ada di sekolah datang sambil berlari menuju arahku. Murid-murid lain yang masih latihan ekskul juga menghampiri kami.
Kali ini giliran Dike yang terlihat syok dihujani berbagai pertanyaan. Tapi aku juga tak mengerti, saat beberapa guru dan murid bertanya padaku. Akhirnya dengan sisa kesadaranku aku berkata, "Pak, kami masih syok. Boleh kami bersihkan diri dan duduk terlebih dulu?".
Akhirnya para penanya itu menyadari sesuatu. Kami berantakan dengan pecahan kaca bertaburan ditubuh kami. Mereka kemudian membantu membersihkan pecahan kaca di tubuh kami, dan kami kemudian digiring ke UKS.
Saat berjalan ke UKS aku menyadari banyak hal.
***
Aku tersenyum saat mengingat kejadian saat pulang pemantapan di SMA. Saat itu, aku duduk di kelas XII dan Dike duduk di kelas X. Cerita sebenarnya adalah, munurut penuturan Dike, Dike hendak menuju mesjid. Dan melihat aku melangkah gontai. Tapi ia juga melihat spiner kipas angin di kelas seperti akan lepas. Tadinya sambil berlari Dike hendak masuk ke kelas untuk mematikan kipas, tapi Dike memperkirakan bahwa sepertinya waktunya tidak akan cukup untuk mematikan kipas yang controlernya jauh di pojok belakang kelas. Akhirnya Dike memutuskan membuat aku menunduk dengan resiko ia juga terluka.
Waw, aku pikir aksi itu heroik sekali. Dike jadi lebih dikenal setelah menolongku. Seperti yang aku katakan sebelumnya, sejak itu juga aku menyadari banyak hal.
Kini Dike semakin tumbuh besar, badannya semakin tinggi melebihiku, badannya juga semakin kekar, suaranya semakin tebal, dan dia semakin... tampan.
***
Aku melihat Jesica berjalan menghampiriku yang duduk sendirian di kantin menunggunya karena dia meng-sms ku yang meminta aku bertemu dengannya. Aku tersenyum dan menyapanya.
"Jangan kusut gitu dong muka cantiknya..", hiburku saat Jesica sudah duduk dikursi disampingku.
"Kak.. Dike nolak aku doong! Mau dimana ditaro harga diri aku!", Jesica merajuk sambil menarik-narik lenganku.
"Kamu yang nembak?", aku terkejut dengan kenekatan Jesica.
"Huaa..", tangis Jesica semakin merajuk.
Aku tercengang. Banyak pertanyaan muncul di benakku. Tapi anehnya aku merasa sedikit lega.
***
"Lu bego, Ke! Cewek kece gitu ditolak!", aku menegur Dike suatu ketika saat Dike main ke rumahku.
"Yang kece banyak..", Dike santai mengunyah kacang dari toples yang dikuasainya dalam pelukannya sekarang.
"Ya terus mau yang gimana?", aku sebetulnya mengajukan pertanyaan ini dengan sedikit kepo.
"Yang... Em...", Dike sok berpikir serius.
"Yang dewasa deh!", tambahnya tiba-tiba, sambil tetap mengunyah kacang
Degh! Aku kenapa jadi berdebar gini ya? Ah.. Jangan sampai aku jadi salah tingkah.
"Banyak kan temen-temen lu yang dewasa?", aku tanpa sadar berceletuk sesuai dorongan hatiku.
"Tapi, yang klik susah. Eh, udah siih. Ngapain ngomongin itu. Tantee.. Ada makanan lagi gaa?", Dike langsung ngeloyor pergi ke belakang sambil memanggil ibuku, meninggalkan aku yang mematung. Untung saja Dike sudah pergi. Aku sekarang benar-benar berdebar.
***

#Dike's side#
Sambil memanggil Tante Devi, Ibu Dara, aku sebenarnya menghindari pertanyaan Dara lebih jauh. Aku takut keceplosan. Untung kacang sudah habis, jadi aku bisa menghilangkan alibi.
Ah, andai kau tahu Dara.
***

Cerpen jadul lama, baru di post
Sudah hampir setengah tahun lalu

Senin, April 28, 2014

Rindu Cinta

Mereka bilang cinta itu bahagia
Dia membawa senyum
Tapi kulihat ia juga pergi meninggalkan luka

Seribu malam
Aku berteman dengan sunyi
Tak pernah ku dengar angin membisikan tentang cinta
Ataupun bintang malam yang mengguguskan seperti apa itu cinta

Jiwa-jiwa yang ramai bersama deru langkah mereka
Ah, ku lihat cinta mereka tak menarik
Hanya kata dan laku yang mereka buktikan

Hai, siapapun itu cinta
Aku menanti
Jika ia jiwa, rasukilah
Jika ia rasa, damaikanlah
Jika ia apapun yang belum ku indrai, anugrahkanlah aku indra lain,
agar aku meyakininya
agar ku tau berterimakasih..

Malam, hari 28 bulan empat
Akankah masih ku simpan dia setelah empat tahun?

Rabu, April 02, 2014

Rembulan

Serabut cahaya kuning kulihat remang-remang diufuk timur
Membawaku ke sebuah dunia yang terasa tak asing
Menyusuri berkas-berkasnya yang merambat ke arahku
Melompati titik titik cahaya kecil yang membekas dihati

Ah andai sirius tak sejauh itu

Titik titik cahaya kini telah tumpah di lembah kehidupan
Menggaburkan berkas keindahan alami mata cahaya
Tak pikirkah aku bahwa ini berlebihan?
Ayo tengok zenith mu sesaat

Pastel yang kupunya bisa kugunakan untuk lukiskan rinduku yang hanya terpenuhi sekali, selamanya
Sempatku kira inilah akhir segalanya
Sempat ku kira ini adalah istimewa

Serabut kuning itu masih menyisakan rasa
Ku kira ia tak pernah malu-malu seperti itu

21 maret 14, di puncak rumah..

Rabu, Desember 18, 2013

Kak Dafa

Lah? Kok gambar Brad Pitt?! Haha gak papa deh. Image nya pas. :p
Aku melihatnya tertawa bersama teman-teman timenumerator proyek assessmen disabilitas. Aku juga ikut tertawa. Memang atmosfernya sedang menyenangkan. Aku masih sering mencuri-curi pandang pada Kak Dafa. Aku tak tahu apa Kak Dafa menyadarinya atau tidak.
Dan hari ini adalah hari terakhir kebersamaan kami secara formal. Proses pengerjaan laporan proyek assesmen kemarin sudah sampai di hari terkahir.

Selasa, November 12, 2013

cinta pertama

Degh!
Aku tertegun melihat sesosok laki-laki berseragam SMA yang duduk dihadapanku. 

Berbagai jenis orang pernah duduk dihadapanku dalam kondisi ini. Posisi duduk komuter line memang memungkinkan orang-orang duduk berhadapan, sehingga sudah menjadi hal yang biasa bila kita berhadapan dengan orang yang kita kenal maupun orang yang tidak kita kenal. Mungkin sudah ratusan orang, mungkin juga beberapa puluh diantaranya laki-laki pelajar yang sebaya denganku , tapi kali ini rasanya berbeda. Tiba-tiba aku merasa sulit bernafas, karena laki-laki itu memandangku juga.
Oh Tuhan!

Aku mengerlingkan mataku dengan segera pada arah lain. Mungkin jika kalian lihat wajahku akan terlihat memerah, karena saat ini aku merasakan wajahku mendadak terasa panas. Aku menunduk dan semakin mengatupkan mulutku. Rasanya aneh, perutku seperti tiba-tiba keroncongan tapi tidak lapar. Aneh sekali.

Aku merasa laki-laki itu sekarang sedang melihatku dan tersenyum, padahal aku tak melihatnya karena aku merasa ingin selalu menunduk. Ada sedikit keinginanku untuk mencuri pandang lagi, tapi gagal karena dia juga ternyata sedang melihat kearahku sehingga aku kembali mengalihkan pandangan ke arah lain, dan aku berusaha keras untuk terlihat natural.

Aku menahan diri untuk tidak melihat kearah laki-laki itu. Aku merasa waktu berjalan sangaaaat lambat ketika aku melihat keluar kereta. Oh, Tuhan, ini masih setengah perjalanan. Ada sedikit perasaan aku ingin segera keluar dari kereta karena aku sangat merasa gugup sekarang. Tapi aku juga masih ingin memastikan apa yang terjadi denganku saat ini, terutama saat melihat laki-laki itu. Rasanya aneh, seluruh organ fisikku jadi bereaksi bersamaan seperti ini. Tidak seperti biasanya. Aku memegang pipiku, masih terasa panas. Apa mungkin aku sakit? Tapi kenapa begitu tiba-tiba.

Aku mencoba mencuri pandang pada laki-laki itu. Dia sedang melihat kearah lain. Aku melihat rambutnya yang ikal keriting dan berwarna agak pirang kecoklatan. Hem.. Apakah dia mengecat rambutnya? Tapi tunggu, dari pakaiannya, dia seoperti bersekolah di sekolah negeri, tapi kenapa dia bisa berambut gondrong keriting dan pirang seperti itu ya? Kulitnya juga putih. Aih, aku jadi minder, karena aku saja yang perempuan tidak memiliki kulit yang bersih dan putih seperti dia. Matanya besar, sedikit ada kesan bule. Cukup tampan. Em, tidak, mungkin sangat tampan, karena sepertinya dia cukup bisa menarik banyak perhatian gadis-gadis. Jika dia berdiri, mungkin dia akan terlihat tinggi besar. Tidak kurus seperti kebanyakan teman-temanku, badannya cukup sehat dan berisi. Aku mengira dia anak orang kaya atau keturunan bule. Em.. Dan... 

Aih, dia mengalihkan lagi pandangannya padaku?! Aku segera berpura-pura mengarahkan pandangaku pada pemandangan diluar kereta di jendela dibelakang laki-laki itu. Dadaku berdebar kencang Kenapa aku harus berdebar-debar? Bukankah hal yang biasa kalau kita menandai cirikhas seseorang yang baru kita kenal? Eh, aku bahkan belum mengenal dia. Aku hanya baru menghafal wajahnya ya? Oh... Kenapa aku aneh seperti ini? Seperti berusaha menghafalkan wajah seseorang yang baru aku kenal. 

Tapi dari kesan yang aku dapatkan, dia sepertinya memang keturunan orang kaya. Ah, aku makin merasa aku sangat aneh hari ini. Sejak kapan aku memandang seseorang dari status sosialnya? Lagipula siapa yang aku nilai status sosialnya? Eh, ralat, aku hanya baru menebak-nebak status sosial seseorang yang baru aku lihat kali ini saja? Dan apa pula untungnya aku menilai itu?

Aku mengalihkan perhatianku dengan mengeluarkan ponselku, tapi ternyata suara sirine palang rel sudah terdengar. Aku melihat ke luar dan ternyata memang stasiun tujuanku sudah sangat dekat. Wah, tumben perjalanan terasa sangat cepat. Eh, sebentar?! Bukankah tadi aku berharap agar bisa segera keluar dari kereta agar tidak usah berperilaku aneh seperti ini lagi? Assh....  Aku segera berdiri dan berjalan mendekati pintu  kereta karena memang aku hampir sampai. Aku lihat beberapa penumpang lain juga mulai berdiri, dan aku lihat laki-laki itu juga berdiri.  Dan ternyata dia memang tinggi besar. Aku pura-pura fokus ke arah lain, padahal sebenarnya aku sangat penasaran. 

Tiba-tiba aku merasa dia berjalan menuju ke arahku, yang memang arah pintu keluar kereta, padahal orang-orang lain juga berjalan menuju ke arahku. Hahaha.. Aku rasanya ingin menahan tawa karena kekonyolanku hari ini. Ini pertama kalinya  puas sekali karena aku merasa geer. Aku merasakan sejuk. Laki-laki itu ternyata sekarang berdiri di posisi arah jam 4. Aku merasa berdebar. Ingin melakukan sesuatu tapi aku ragu. Ah. Ternyata dia turun disini juga.

Aku turun dari kereta terlebih dulu. Aku terus berjalan sambil melihat kearah depan, padahal sebenarnya aku ingin melihat laki-laki itu lagi. Dari sekian banyak orang yang ada disana dan melewatiku, tapi aku sangat merasakan saat laki-laki itu berjalan cepat menyusulku, mendahuluiku, dan meninggalkan aku yang masih menatap ransel di punggungnya.

Hey, Boy, this is my first time have a crush like this. 
  Will we meet again?
Lemee bet with the fate. 

Kamis, Maret 21, 2013

x-factor

bukan..
bukan fathin bukan juga mikha
bukan nu dimension ataupun novita dewi
lalu apa?

kamu bukan agus, ataupun isa raja
bukan juga mikha si malaikat kecil yang mempesona
tapi, telah dari jauh hari aku terpesona
bukan karena suaramu, tapi karena dirimu
semua yang ada pada dirimu

dulu,
ah, cuma masa lalu
bukan masa depan
dan sepertinya tidak menjadi masa depan
karena ada "x" factor dalam dirimu...
"x" boy friend....


















...
of my friend.

sendiri

lone by lone..
they call it, alone
but i feel lonely

smilin'
trough, just like passing the air
to get it fresh, just be fresh
nothing else

what a life...

foot note:
selamat hari puisi :)
posting ini sebetulnya hanya ingin menggugurkan hasrat bikin puisi, gak tau bagus apa enggak, gak tau gimana. tapi lagi pengen bikin, terutama karena, kata teh initan, hari ini hari puisi.
yuk,  katarsis :p

Rabu, Mei 23, 2012

Untuk Achiles


Tak pernah ada yang tahu...
Tentang cintamu untuk Troya..

Darah Dewa yang mengalir dalam tubuhmu..
Ternyata bukan sebuah keniscayaan dalam keabadian
menikmati embun cinta kita yang terlalu pagi
yang akhirnya hilang oleh teriknya siang...

Biarlah sejarah menyalahkanku atas pecahnya perang ini
Biar aku temukan sendiri peta cinta yang kau beri padaku
yang ternyata bukan bertuju padamu..
Pada Paris.. yang memang bagimu dia adalah sebuah realitas..

Dan memang realitas yang ku tempuh ini.. adalah untukmu..
Untuk cintaku padamu...

Kekasih Paris yang cintanya pernah engkau  nikmati
Hellen

Selasa, Mei 01, 2012

Gak Mau Nyontek


“Sya, lihat dong.. Aku belum selesai nih..”, Rummi berbisik pelan padaku.
Aku terdiam. Padahal ini hanya TO, yang tujuannya untuk mengetahui sejauh mana kemampuan kita. Tapi, masih aja kepikiran buat nyontek.
Aku hanya bisa menggeleng, “Aku juga belum selesai.. Ini juga ngasal banget..”, aku sebisa mungkin mencoba menghindar.
“Gak apa-apa, daripada kosong banget..”, Rummi terus merayuku.
Aku terdiam. Ingin sekali rasanya bilang tidak. Tapi Rummi itu sahabatku, sahabat baruku di tempat bimbel ini. Kalau akau tidak memberi contekan, nanti Rummi sebal padaku dan tidak mau bersama-sama denganku lagi.
Aku masih dalam dilema. Berusaha untuk melupakan permintaan Rummi barusan dan berharap itu hanya halusinasi atau mimpiku saja. Aku berharap Rummi tidak pernah mengatakannya kepadaku.
“Sya...”, Rummi memanggilku sekali lagi dengan nada yang lebih terburu-buru namun masih berbisik.

Selasa, November 22, 2011

buat apa?

15 Maret 2008, jam 15.00
Mukaku terasa panas. Mungkin jika aku membawa cermin dan melihat bayanganku sendiri, aku dapat melihat wajahku yang merah. Bengkak. Mataku juga terasa perih, terasa agak sedikit basah dan hangat, deru nafasku seperti terburu namun tersendat. Aku tak bisa berfikir diksi apa yang harus keluar dari mulut ini, jangankan diksi, sepatah kata asal pun serasa tak bisa dan tak mau terungkapkan. Wanita kurus ini masih mengelus lututku. Aku berusaha menenangkan diri.
***
15 Maret 2008, jam 17.30
Aku segera merebahkan badan ini diatas kasur, masih dengan kostum yang sudah tadi aku pakai untuk mengarungi sedikit cerita dinamika hidup. Emosi yang tadi terluap masih sedikit tersisa. Buktinya dadaku masih terasa sesak, rasanya oksigen yang tersedia di kamarku ini masih kurang memuaskan paru-paruku untuk bernafas lega. Leher ini masih terasa sakit dan tercekat, rasanya masih ingin menumpahkan emosi yang tadi sudah membanjiri dada ini. 
"Astagfirullah.... Astagfirullah... Astagfirullah... Allah...", aku merintih kecil, mencoba ikhlas.

***
15 Maret 2008, jam 19.35
"Jangan sampai kita terlena..", tegas wanita dewasa disampingku, namun dengan nada yang lembut.
".....", aku masih tak bisa berkomentar.
"De.. buat apa sih kita melakukan ini? Capek-capek ngerjain tugas, presentasi, observasi, ngurusin laporan, ngurusin himpunan yang malah bikin pusing, kegiatan ini itu.... Capek ga sih?"
Aku tak bisa menjawab apa-apa lagi. Hanya butiran air hangat terasa mengalir deras di pipiku. Aku tak bisa mengeluarkan suara apapun, bahkan hanya sebuah gerungan pun. Aku menyadari, tapi masih malu mengakui.
Kurasakan belaian lembut itu di bahuku. Aku semakin tak kuasa menahan apa yang aku rasakan.  Entah perasaan apa, yang jelas aku menangis sekarang. Tertunduk. Jelas, aku sangat malu.
"Perasaanmu belum tentu berasal dari hatimu dek.. Bisa saja itu hanya tipudaya yang melemahkanmu.. Mungkin  iya kamu sudah melakukan kesalahan, mungkin iya juga kamu sudah merasa bersalah. Tapi coba kamu pikirkan dan resapi lagi, apa semua perasaan ini sudah benar? Apa kamu merasakan semua ini karena Allah?", wanita ini semakin mempertajam suaranya namun 
Hening. Elfa, kakak sulungku seolah membiarkanku sejenak untuk menenangkan diri.
"De.. Jangan terlalu terbuai.. Kalau kamu merasa kesulitan, mintalah bantuan... Minta bantuan Allah..."
Astagfirullah.... Ya Rabbana.... Maafkan aku... Bantu aku...
***
15 Maret 2008, jam 14.45
"Lo tau kan!", aku berteriak keras.
"Iya! Dan gue yakin banget, kalo emang ini harus di sidang!"
"Kalo lo emang pengen tetep kasus ini sampe di sidang, kenapa lo ga dateng kemaren pas musyawarah? Kemana aja lo?"
"Bukan masalah gue dateng apa nggak, tapi ini buat kedepannya! Kalo cuma diinegtin doang, bisa jadi kebiasaan! Fine, ini hal yang kecil, tapi kalo udah dikasih contoh ga diapa-apain, nanti malah keterusan! Yang lain juga mikir ga apa-apa! Lo mau hasil kaderisasi lo pelenyak pelenyek? Ga mutu?".
Darahku terasa mendidih.
Aku segera berdiri dan pergi meninggalkan forum.
***
16 Maret 2008, jam 10.12
"Oke, insya Allah dan mudah-mudahan ini yang terbaik ya...", semua yang hadir langsung mengamini.
"Baik, terimakasih semuanya.. Mohon maaf bila selama forum ini ada hal yang kurang berkenan dari pihak manapun, mari kita sama-sama mengikhlaskan, karena toh keputusan sudah disepakati dan memang tujuan kita sama, yaitu untuk himpunan kita yang lebih baik lagi kedepannya.", kini semua peserta forum mulai hening dan menghayati.
"Kita akhiri dengan bacaan hamdalah, istigfar, dan doa akhir majelis...", semua khusyuk dengan hatinya masing-masing.
"Terimakasih semuanya wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..", Agus akhirnya menutup forum kali ini. Aku melirik Dian diam-diam, perseteruan kami kemarin rasanya membuatku jadi sedikit canggung, tapi aku harus melakukannya! 
Aku akhirnya menghampiri Dian.
"Dian... Maafin aku yaa....", aku memeluk Dian erat.
"Sama-sama Fa..", tak banyak yang keluar dari mulut Dian. Namun setelah prosesi berpelukan yang cukup lama, kami pun saling memandang dengan senyuman penuh arti. Lebih berarti dari sebelumnya. Seperti ada rasa sayang yang begitu besar.
 Rasanya lega. Kalau kita lebih ikhlas dan melakukan semuanya karena cinta. Ya, terutama karena Cinta. 
Daaaan... Jika kita kita ingat dan berusaha, ditambah ikhlas, pertolongan itu akan kita sadari ada, tapi kadang dari arah yang sama sekali tak kita mengerti.