Senin, April 30, 2012

dari Z-A, dari produk, proses, sampe esensi


12 tahun ditambah 4 semester saya melakoni kehidupan sebagai seorang pelajar di pendidikan formal. Seringnya saya mengeluh mengenai aktivitas belajar yang seolah-olah menjadi kewajiban. Padahal, belajar merupakan kebutuhan dari setiap manusia yang hidup dan beradab. Belajar juga merupakan hak bagi seluruh rakyat Indonesia (lihat pasal 28 UUD 1945).
Mungkin masih jelas di memori teman-teman, mengenai kasus seorang anak SD yang tega menusuk temannya sebanyak delapan tusukan karena temannya tersebut meminta hp yang telah dicuri oleh anak tersebut dikambalikan.
Ada juga cerita tentang anak TK islam yang sudah cukup terkenal dan memiliki cabang hampir diseluruh wilayah di Indonesia, yang senang merebut makanan milik temannya. Bayangkan, jika pemilik asal makanan tersebut tidak ridho, itu berarti, anak sekecil itu sudah memakan makanan haram. Selain itu, ada lagi cerita tentang anak yang senang mengambil barang milik pembantunya, padahal dia memiliki uang saku yang lebih besar nominalnya daripada dengan yang dicuri olehnya dari pembantunya.

Kamis, Februari 23, 2012

Berduka

Kemaren cukup menguras hati saya dengan bertemu dia..

Pagi ini.. Sejenak setelah saya berhasil menormalkan desahan nafas saya, karena saya terlambat jadi berusaha lari dari gang terdekat menuju gedung perkuliahan fakultas saya, salah seorang teman saya manggil. Dengan pelan tentunya, karena disana sedang ada dosen.

"Pit...", saya menoleh kebelakang.

Jumat, Desember 30, 2011

"dunia nyata"

"Teh, liat.. mereka usia segitu udah harus menjalani dunia nyata..."
Suatu hari mamah bilang itu sama saya ketika saya sedang memperhatikan beberapa abg sedang opsih*.
Mereka kalau masih sekolah, mungkin mereka duduk di bangku SMP atau SMA. Setiap mereka opsih, saya hampir selalu mendengar musik-musik  dari musisi yang mungkin sedang ngetren saat ini dari HP mereka yang di stel dengan speaker HP mereka..
~~~
Setiap saya mengeluh tentang kegiatan ekstra kampus (ormawa.pen), tentang berbagai ragam orang dan 'kepentingan' yang saya temui.. Mamah cuma tersenyum...
"Aduh.. itu kan masih kampus ya... Ko gitu banget...."
"Hehe.. Belum dunia nyata ko.. Jangan dibawa stress... Nikmati aja proses belajarnya.."
~~~
Dunia nyata....(?)

"Kadang yang aku tangkap secara visual, aku rasakan sebagai ilusi. Yang aku tangkap sebagai audio hanya gemuruh. Yang aku tangkap secara taktil itu semu... Tapi perasaan  yang ku rasakan....."

*opsih : membersihkan sarung dari benag yg ngambai

Rabu, November 23, 2011

kisah cintaku


Rasanya kamu masih ada disisiku, menemaniku, meski tak selalu tampak. Seperti biasanya.
Rasanya juga ga percaya kalau kamu itu (udah) gak ada lagi disisi aku.
Rasanya juga berat buat mengakui kalau mungkin kamu gak akan kembali lagi buat menemani hari-hariku seperti dulu.
Rasanya semua ini berlalu begitu cepat..

Well, mungkin pertemuan pertama kita bukan suatu hal yang terasa begitu spesial kala itu. Kamu milik orang lain, dan aku belum begitu tertarik sama kamu. Tapi setelah dia hilang dan pergi yang aku yakin tak kembali.. Setelah kamu dicampakan dia yang dulu pernah memilikimu.. Setelah dengan cukup berat kita mendapat restu dari orang yang dulu ingin memiliki kamu.. Sangat mencintai kamu.. Adikku sendiri...

Well, aku akui.. Awalnya aku hanya memanfaatkan kamu dari kekosonganku saja. Aku butuh semua hal yang ada pada kamu. Aku sempat tak rela ketika ayahku mengatakan, sebaiknya aku bersama dirimu saja...
Aku merasa angkuh kala itu jika harus terus berdampingan denganmu yang sungguh bagiku sangat jauh berbeda dan menurutku berada jauh dibawah dia yang telah meninggalkanku...
Aku akui, sering aku menyakitimu.. Membuatmu terluka dan mungkin meninggalkan cacat padamu.. Aku sering mengabaikanmu.. Aku sering menyepelekanmu.. Aku sering berlaku angkuh dan merendahkanmu.. Aku sering berkelakar tentangmu dihadapan orang-orang “Hahahaha.. Biarin aja.. Udah pengen ganti kok..”
*sigh

Tapi tak jarang pula, ketika aku terjaga.. ketika aku teringat..
Aku pun pernah bersyukur atas kehadiranmu.. Aku pernah sangat bahagia memilikimu...
Yang kini aku sadari, bahwa kini aku mencintaimu...

Kelakar itu kini mungkin sudah terwujud..
Tapi aku masih tak percaya..
Aku masih ingin menyangkal bahwa kamu udah ga disisi aku lagi..
Kamu mungkin udah pergi.. Ga kembali lagi sama aku...
*sigh
Aku masih ga kuat buat ngakuin itu sama diri aku sendiri.. Rasanya sulit buat melepas kamu..
Ini bukan tentang air mata.. Karna kepergian kamu ga aku nodai sama airmata yang payah...
Ini cuma tentang hati aku yang masih berat mengakui kalo kamu itu gak ada disisi aku lagi...
Semua kenangan, memori, dan hal-hal berharga yang ada sama kamu makin nambah aku seakan ngerasa gak rela... Karena aku sadar kalau ini semua salah aku... aku jadi semakin sulit buat mengakui kenyataan ini..

Banyak hal yang aku pengen tegasin dari hal ini adalah.. Aku gak pernah menyesal bertemu kamu.. Thanks God... Aku malah sangat bersyukur.. Dan, meski aku terlihat seperti ga perduli.. Tapi aku mencintai kamu.. Setulus hati aku.. Karena Allah.. (Makanya aku gak mau lebay ketika kehilangan kamu..) Aku juga berterimakasih sama ayah, adikku, Allah, dan kamu tentunya.. Karena aku bisa punya kisah sama kamu... senang, susah, sedih, bahagia.... Mudah-mudahan semua ini bisa jadi pelajaran berharga buat aku, dan buat aku berubah menjadi lebih baik lagi... Amin..

Dedicated for My Beloved Master, MITO 2000
In Memoriam 13 November 2011


(gak tau kenapa Sountrack di Playlist jadi lagu UTUH nya Tangga)

*buat pembaca mohon doanya juga yaa....

Selasa, November 22, 2011

buat apa?

15 Maret 2008, jam 15.00
Mukaku terasa panas. Mungkin jika aku membawa cermin dan melihat bayanganku sendiri, aku dapat melihat wajahku yang merah. Bengkak. Mataku juga terasa perih, terasa agak sedikit basah dan hangat, deru nafasku seperti terburu namun tersendat. Aku tak bisa berfikir diksi apa yang harus keluar dari mulut ini, jangankan diksi, sepatah kata asal pun serasa tak bisa dan tak mau terungkapkan. Wanita kurus ini masih mengelus lututku. Aku berusaha menenangkan diri.
***
15 Maret 2008, jam 17.30
Aku segera merebahkan badan ini diatas kasur, masih dengan kostum yang sudah tadi aku pakai untuk mengarungi sedikit cerita dinamika hidup. Emosi yang tadi terluap masih sedikit tersisa. Buktinya dadaku masih terasa sesak, rasanya oksigen yang tersedia di kamarku ini masih kurang memuaskan paru-paruku untuk bernafas lega. Leher ini masih terasa sakit dan tercekat, rasanya masih ingin menumpahkan emosi yang tadi sudah membanjiri dada ini. 
"Astagfirullah.... Astagfirullah... Astagfirullah... Allah...", aku merintih kecil, mencoba ikhlas.

***
15 Maret 2008, jam 19.35
"Jangan sampai kita terlena..", tegas wanita dewasa disampingku, namun dengan nada yang lembut.
".....", aku masih tak bisa berkomentar.
"De.. buat apa sih kita melakukan ini? Capek-capek ngerjain tugas, presentasi, observasi, ngurusin laporan, ngurusin himpunan yang malah bikin pusing, kegiatan ini itu.... Capek ga sih?"
Aku tak bisa menjawab apa-apa lagi. Hanya butiran air hangat terasa mengalir deras di pipiku. Aku tak bisa mengeluarkan suara apapun, bahkan hanya sebuah gerungan pun. Aku menyadari, tapi masih malu mengakui.
Kurasakan belaian lembut itu di bahuku. Aku semakin tak kuasa menahan apa yang aku rasakan.  Entah perasaan apa, yang jelas aku menangis sekarang. Tertunduk. Jelas, aku sangat malu.
"Perasaanmu belum tentu berasal dari hatimu dek.. Bisa saja itu hanya tipudaya yang melemahkanmu.. Mungkin  iya kamu sudah melakukan kesalahan, mungkin iya juga kamu sudah merasa bersalah. Tapi coba kamu pikirkan dan resapi lagi, apa semua perasaan ini sudah benar? Apa kamu merasakan semua ini karena Allah?", wanita ini semakin mempertajam suaranya namun 
Hening. Elfa, kakak sulungku seolah membiarkanku sejenak untuk menenangkan diri.
"De.. Jangan terlalu terbuai.. Kalau kamu merasa kesulitan, mintalah bantuan... Minta bantuan Allah..."
Astagfirullah.... Ya Rabbana.... Maafkan aku... Bantu aku...
***
15 Maret 2008, jam 14.45
"Lo tau kan!", aku berteriak keras.
"Iya! Dan gue yakin banget, kalo emang ini harus di sidang!"
"Kalo lo emang pengen tetep kasus ini sampe di sidang, kenapa lo ga dateng kemaren pas musyawarah? Kemana aja lo?"
"Bukan masalah gue dateng apa nggak, tapi ini buat kedepannya! Kalo cuma diinegtin doang, bisa jadi kebiasaan! Fine, ini hal yang kecil, tapi kalo udah dikasih contoh ga diapa-apain, nanti malah keterusan! Yang lain juga mikir ga apa-apa! Lo mau hasil kaderisasi lo pelenyak pelenyek? Ga mutu?".
Darahku terasa mendidih.
Aku segera berdiri dan pergi meninggalkan forum.
***
16 Maret 2008, jam 10.12
"Oke, insya Allah dan mudah-mudahan ini yang terbaik ya...", semua yang hadir langsung mengamini.
"Baik, terimakasih semuanya.. Mohon maaf bila selama forum ini ada hal yang kurang berkenan dari pihak manapun, mari kita sama-sama mengikhlaskan, karena toh keputusan sudah disepakati dan memang tujuan kita sama, yaitu untuk himpunan kita yang lebih baik lagi kedepannya.", kini semua peserta forum mulai hening dan menghayati.
"Kita akhiri dengan bacaan hamdalah, istigfar, dan doa akhir majelis...", semua khusyuk dengan hatinya masing-masing.
"Terimakasih semuanya wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh..", Agus akhirnya menutup forum kali ini. Aku melirik Dian diam-diam, perseteruan kami kemarin rasanya membuatku jadi sedikit canggung, tapi aku harus melakukannya! 
Aku akhirnya menghampiri Dian.
"Dian... Maafin aku yaa....", aku memeluk Dian erat.
"Sama-sama Fa..", tak banyak yang keluar dari mulut Dian. Namun setelah prosesi berpelukan yang cukup lama, kami pun saling memandang dengan senyuman penuh arti. Lebih berarti dari sebelumnya. Seperti ada rasa sayang yang begitu besar.
 Rasanya lega. Kalau kita lebih ikhlas dan melakukan semuanya karena cinta. Ya, terutama karena Cinta. 
Daaaan... Jika kita kita ingat dan berusaha, ditambah ikhlas, pertolongan itu akan kita sadari ada, tapi kadang dari arah yang sama sekali tak kita mengerti.