Jumat, Oktober 31, 2014

#25DayBlogChallenge - #2 20 Fact About Me

  1. Anak pertama dari tiga bersaudara
  2. Lahir di Cianjur, di akta kelahiran dan ijazah di tulis lahir di Sumedang, di KTP di tulis di Bandung, besar di Majalaya. Okay..
  3. Suka internetan, meski ga pake banget. Buat pengalihan isu (ketika matigaya, garing atau awkward moment).
  4. Bisa dibilang kejam kalau soal kebaikan dan kebenaran buat orang tersayang, tapi sering juga tidak tegaannya muncul.
  5. Pemalu, terutama pada laki-laki

Jumat, Oktober 17, 2014

#25DayBlogChallenge - #1 Introduction

Loha! Ah, lama sekali saya tidak nge-blog. Kenapa?
Bingung. Belakangan ini saya bingung mau nulis apa. Belakangan ini saya agak-agak melow dan mendadak jadi pencinta roman pasaran. Saya lagi suka baca-baca buku roman, you know, baca buku roman hanya menambah semangat dan memainkan perasaan. Tapi ide buat nulis jadi buntu, nulis roman, juga gak berpengalaman  di dunia nyata haha :p
Akhirnya nemu tantangan ini di blog nya teh Linda. Akhirnya jadi terpancing buat nulis lagi. :D
Sebenernya sudah beberapa kali ikut tantangan nge-blog, tapi terhenti karena buntu ide atau gak sempet. Saya lihat tantangan ini tidak terlalu mengikat, baik dari segi waktu dan temanya juga sederhana. So, i decided. :)


Senin, Agustus 25, 2014

Pernah ada

Dan mungkin masih ada.

Foto dan tulisan memang menerbangkan aku pada beberapa banyak kenangan di masa lalu. Tentang langkah-langkah yang telah dilalui sebelum akhirnya sampai di titik ini.

Mungkin terlalu jauh jika harus terbang ke masa dimana aku mulai  mengingat kenangan kenangan masa kecil, tapi kali ini aku ingin singgah di sebuah memoar 4 tahun lalu.

Di pertengahan 2010 saya bertekad bertransformasi. Aku berubah, pertama dari penampilan hingga kebiasaan. Itu mengawali ceritaku di bangku kuliah.
Jejak jejak juga sempat sedikit tertoreh di beberapa organisasi hebat yang aku juga tak percaya pernah menjadi salah satu bagian penyangganya.
Hingga suatu saat, waktu berubah,aku mulai merasakan suatu tuntutan lain. Ada panggilan keras dari dasar tanah yang aku injak. Aku harus memilih tanah yang harus ku gali.

Beberapa periode menghabiskan  masa muda bersama idealisme orang-orang hebat dan perlahan menarik diri menjadi tak terlihat. Bukan tak ingin terlihat, tapi aku harus muncul di tempat lain.

Kadang aku dengar riuh-riuh suara teriakan perjuangan mereka. Aku rindu. Kadang aku tengok, peluh peluh mereka menetes, ingin aku menyekanya. Aku hanya bisa jadi angin, yang semoga mereka rasakan sejuknya, membantu mereka merambatkan suara perjuangan mereka hingga tempatku berada.

Ah, rindu. Selalu saja menghantui malam-malamku. Semoga rindu ini sampai, karena ada untaian doa dalam setiap hembusan kegelisahan, semoga ada sedikit hembusan doa darisana yang menerpaku, menyejukan hatiku, merasuk dalam rasaku.

Aku tak terlihat, tapi aku di belakang kalian. Menyusuri jejak jejak langkah yang kalian tinggalkan, meraba arah kemana kalian pergi, setia pada janji bertemu di tujuan.

Minggu, Agustus 24, 2014

ingin menulis tapi

Padahal langit begitu cerah, awan juga menggumpal jelas diantara birunya langit.
Ah, menulis. Dulu pernah berkelakar kalau menulis hanya bagian dari katarsis, tapi ternyata menulis lebih dari sekedar katarsis. Menulis menajamkan rasa kita tentang dunia, tentang hembusan angin, tentang temaram cahaya bulan.

Hari ini sedikit baca-baca tulisan lama, entah karena narsis, tapi rasanya gak percaya kalau saya dulu pernah nulis postingan-postingan itu, gak percaya kalau saya bisa take foto macam itu. Rasanya puas dengan masa lalu, karena masa lalu itu yang membentuk kita hari ini. Gak pernah ada penyesalan tentang masa lalu, yang penting berbuat yang terbaik saat ini untuk masa depan.

Tumblr, blogspot, deviantart, plurk, dan berbagai media katarsis lainnya sudah mulai jarang dikunjungi. Bahkan line pun, yang mudah di jangkau, saya sudah jarang berbagi disana.
Ah, masalah klasik adalah tentang waktu. Sering memang kita harus menyempatkan diri untuk sejenak mengabadikan rasa dalam bentuk tulisan maupun gambar, agar suatu saat bisa menjadi memoar, agar suatu saat kita bisa mencari keindahannya jika kini kita belum bisa menemukan keindahannya.

Ah,  rasa...

Sabtu, Juni 14, 2014

Terjebak Nostalgia

Pria melihat gadis yang duduk di pojok kelas. Gadis itu ternyata sedang menatapnya juga. Pria buru-buru mengalihkan pandangannya ke arah lain. Berdebar. Orang-orang bilang gadis itu sangat membenci Pria. Perasaan Pria jadi tak menentu setelah mendengar kabar itu. Gundah.
***
Sudah seminggu Rara tak masuk. Ibu Yuyun, walikelas Pria mengabarkan bahwa Rara tifus. Pria dan beberapa perangkat kelas lainnya ditugaskan menjenguk Pria. Perasaan Pria tak tentu, yang jelas sejak ditugaskan tadi, jatung Pria seakan berdebar kencang.
Saat di depan pintu kamar rawat Rara, Pria mengetuk pintu, "Permisi..".
Ada suara pintu dibuka, dan terlihat wajah yang tak asing tersenyum ketika melihat Pria dan rombongan.
Bu Erni, guru kesenian mereka, ibunda Rara, yang membukakan pintu.
Setelah dipersilahkan masuk, anak-anak berseragam putih biru itu melangkah masuk. Pria masuk paling terakhir. Wajah Pria memerah saat matanya bertemu dengan sosok yang terbaring di ranjang. Wajah gadis yang terbaring juga memerah. Mereka langsung saling membuang pandangan.
***
Pria tersenyum geli. Sekarang ia sedang dalam antrian undangan yang hendak memberikan selamat pada pengantin di pelaminan.
"Cantik", gumam Pria dalam hati, ada sebuah perasaan aneh dalam hatinya saat melihat ratu pesta hari ini.
Gadis yang menjadi ratu di pelaminan itu adalah Rara, cinta pertamanya. Cinta pertama yang tak pernah tersampaikan.
Dwi memeluk gadis cantik itu, memberikan selamat pada Rara. Pria hanya mampu menyalaminya, memberikan senyum dan selamat. Rara membalasnya dengan respon serupa. Rasanya ada sesuatu yang menahaannya untuk ingin tetap berada di posisi itu, tapi Pria tetap melangkah juga karena antrean di belakangnya masih panjang.
Selesai bersalaman dengan orangtua mempelai, Pria dan Dwi menuruni undakan pelaminan. Pria berpikir sesuatu, tapi tangan Dwi yang kemudian menggantungi di lengan kirinya mengembalikan Pria pada realita.
"Mas, mau makan atau ke stand?", wanita yang merupakan istrinya itu bertanya sambil melihat ke seluruh penjuru aula.
"Baso tahu aja, yuk!", Pria menarik Dwi menuju stand baso tahu. Dwi mengikuti tarikan suaminya itu.
Pria sadar, seberapa manisnya masa lalu, hal itu tetap berada masa lalu. Takdir mempertemukan Pria dengan Dwi dan membuatnya jatuh cinta, kemudian datang keyakinan untuk menjadikan Dwi sebagai teman hidup Pria hingga masa mendatang habis.
Pria tersenyum, dan menggenggam tangan kekasihnya itu dengan erat.
***
Delapan tahun sebelum acara pernikahan Rara..

Gerald mengetuk pintu kamar kakaknya dengan buru-buru.
"Kak!", teriak Gerald dari luar.
Pria membuka pintu kamarnya dan membuka headsetnya.
"Apa?", tanya Pria.
"Gua nemu ini di buku perpus, gue heran kenapa ini masih ada aja", papar Gerald.
Gerald menyerahkan sebuah buku usang dengan banyak bekas lipatan dan Pria membacanya.

Gerald meninggalkan Pria yang masih membaca. Pria melangkah memasuki kamar lagi dan membaca isi salahsatu bukunya yang dulu sempat hilang itu di kasurnya. Pria tertegun melihat salah satu lembaran dibuku itu. Ia menghela nafas panjang sebelum akhirnya menyimpan buku itu diatas meja kemudian memasang kembali headsaetnya. Ia lalu berbaring sambil memejamkan mata.
Ada sebuah tulisan yang membuat ingatan Pria terbang ke dua tahun lalu. Tulisan sesorang yang sebelum ujian nasional, orang itu menghilangkan sebuah  buku  milik Pria.

"Rara loves Pria, but Pria...?"

Rara, dimana kamu sekarang? Sekarang aku yang hampir meledak, karena ada banyak  tanya yang ingin aku tanyakan padamu, guman Pria dalam hati.

Tiba-tiba ia merindukan gadis yang terakhir ditemuinya dua tahun lalu di hari terakhir ujian nasional. Gadis yang tak ikut acara perpisahan sekolah.

~18/3/14.23.14
Dang shi eun